Pengurusan Visa Keluarga ke Jerman

Hidup sendiri di negeri orang bisa menyebabkan kebekuan hati di musim dingin.. hahaha Ternyata proses berkumpulnya keluarga pun butuh perjuangan dan kesabaran. Masing masing orang punya pengalaman sendiri, ada yg dalam sebulan selesai ada yang sudah lebih dari 6 bulan, visa keluarganya tak kunjung datang. Kisah berikut terkait pengalaman pribadi saya terkait pengurusan visa istri.

Merujuk pada persyaratan pengajuan visa tinggal lebih dari 3 bulan pada web kedutaan jerman:

terkait dengan visa kumpul keluarga, ini aturan tambahan khususnya:

Untuk suami/isteri (kumpul keluarga):

a. Akte perkawinan yang telah dilegalisir

b. Apabila anak-anak ikut: akte kelahiran yang telah dilegalisir

c. Bukti kemampuan berbahasa Jerman secara sederhana (tes bahasa A1 dari Goethe-Institut Jakarta) sesuai § 28, 30 UU Izin-Tinggal

d. Surat sponsor dari suami/isteri hanya atas permintaan Kantor Imigrasi yang berwenang

Detailnya:

a. Akte perkawinan yang telah di legalisir

Yang dimaksud dengan telah di legalisir adalah dilegalisir oleh: Kementerian Agama, Kemenkumham, Kemenlu dan kedutaan besar jerman. Prodesur ini berlaku untuk legalisir buku nikah warga beragama Islam.  Prosedurnya sebagai berikut.

1. Bawa kedua buku nikah ke KUA tempat nikah, beserta minimal 3 kopi untuk dilegalisir oleh KUA.

2. Setelah dari KUA, bawa kedua buku nikah dan legalisir KUA ke Departemen Agama JAkarta, di Jalan M. H. Thamrin No. 6, Jakarta 10340. (seberang gedung mandiri). Pengalaman saya, saat itu legalisir tidak bisa langsung selesai karena petugas yang berwenang menandatangani sedang dinas luar. Di sini ada formulir yg harus di isi. Soal biaya, di sini sangat tidak jelas. Rahasia umumnya..

3. Setelah dari Kemenag, bawalah kedua buku nikah ke Depkumham, di Jalan H.R Rasuna said kav 6-7 Jakarta Selatan, seberang pasar Festival. Saya agak lupa nama gedungnya, sepertinya di bagian imigrasi gedung pelayanan masyarakat.

Mengingat keterbatasan waktu dan tenaga, mulai tahap ini, saya menggunakan jasa kurir. Saya menitip semua dokumen untuk dilegalisir oleh Kemenkumham dan Kemenlu. Prosedur resminya saya kurang paham.

Sebelum ke kemenkumham, saya menghubungi bapak tersebut dan meminta tolong. sekalian menawar berapa jasaj yang beliau minta. Saya pastikan bahwa saya hanya membutuhkan legalisir dari kemenkumham dan kemenlu. Besarannya saya sudah lupa. Bila tidak banyak pesanan, legalisir buku nihak ini selesai dalam 1-2 hari. Selanjutnya beliau mengirimkan buku nijkah saya ke alamat rumah.

Setelah selesai, baru buku nikah diterjemahkan. Sangat disarankan, penerjemah adalah penerjemah dalam daftar penerjemah kedutaan jerman. Berikut daftar penerjemah yang diakui kedutaan jerman. Klik di SINI.

Sebaiknya anda menggunakan penerjemah tersumpah, tapi bila tidak juga tidak masalah,  asalkan saat mengajukan visa, sebelum dokumen dikumpulkan, legalisirlah terjemahan tadi di kedutaan jerman.

Sampai sini urusan buku nikah beres..

b. Belum punya anak

c. Kemampuan bahasa jerman

Kedutaan jerman mensyaratkan minimal punya sertifikat A1. Ujiannya hanya bisa dilakukan di Goethe institut. Tapi bagi keluarga penerima beasiswa DAAD, bisa minta surat sakti dari DAAD, bahwa yg bersangkutan akan kursus di jerman.

d. Surat sponsor dari suami/isteri hanya atas permintaan Kantor Imigrasi yang berwenang

Ini sangat variatif tergantung aturan di kota tujuan. Bertanyalah dulu ke kota tujuan tentang aturan mengundang keluarga. Pengalaman saya, saya membuat surat undangan tanpa cap dari kantor imigrasi kota Heidelberg.

Beberapa aturan umum yang tak tertulis dalam aturan pengajuan visa:

i. Ketersediaan tempat tinggal

aturan baku di Jerman, setiap warga harus menempati hunian yang layak. Setiap orang dewasa, minimal menempati luas hunian 12m2. Bila suami istri, tidak masalah bila hanya 1 kamar. Namun bila memiliki anak yang berumur lebih dari 2 tahun, anaknya harus menempati kamar sendiri.

Pengalaman istri, Surat kontrak wohnung dengan luas yg cukup tadi kami lampirkan pada dokumen aplikasi visa di kedutaan jerman.

ii. Kecukupan finansial

Ini sangat relatif tergantung kota. Ada yg punya aturan yg jelas ada yg ga. Pengalaman saya, karena IGSP tidak menangung biaya hidup keluarga, pada dokumen aplikasi visa, kami juga melampirkan surat keterangan finansial dari instansi yang ditandatangai pimpinan instansi. Tujuannya agar memenuhi kebutuhan syarat kecukupan Finansial tersebut.

Menggunakan trik tersebut, saya tidak perlu membuat blockkonto yang konon harus deposit 8000e itu. Hanya saja, kantor imigrasi heidelberg meminta bukti rekening 3 bulan terakhir bahwa saya mendapatkan uang sesuai yg tertera pada surat tadi.

Perlu diketahui, bahwa kebolehan mengundang keluarga ke jerman juga ada aturan lain yang entah dari mana sumbarnya. Isinya berupa, pihak pengundang harus memiliki izin tinggal di jerman minimal 1 tahun.

Terkait masalah ini, ada pengalaman teman dari negara lain, karena di awal pengajuan izin tinggal setelah visa 3 bulan habis, dia hanya diberikan izin tinggal 3 bulan, maka selama kurang lebih 6 bulan sejak kedatangan, praktis dia tidak bisa mengundang istri menggunakan jalur visa kumpul keluarga (family reunion). Bila kebelet ingin berkumpul, terpaksa keluarganya hanya bisa menggunakan visa turis, dan harus kembali ke indonesia sebelum visa habis.

Berapa lama pengurusan visa keluarga?

Sangat bervarisi tergantung kota. Pengalaman istri, 1,5 bulan setelah aplikasi diajukan, datang surat dari imigrasi Heidelberg yang meminta saya melengkapi beberapa dokumen, diantaranya bukti pendapatan dan kontrak tempat tinggal. karena ada sedikit masalah, surat menyurat tersebut dilakukan 2 kali, dan kurang lebih 1 bukan sejak surat pertama datang, visa istri diberikan oleh kedutaan jerman di Jakarta.

Bagaimana prosedur pengajuan residen permit istri?

  1. Lapor diri ke Rathaus setempat, yang menyatakan istri tinggal bersama suami
  2. Isi formulir kuring pangajuan residen permit
  3. Karena kantor imigrasi dan tempat tinggal di sini berbeda kota, maka kami menunggu surat panggilan dari kantor imigrasi.
  4. Datang ke kantor imigrasi sesuai jadwal dalam surat, dengan membawa paspor, foto seperti foto paspor. dan serta biaya administrasi sesuai kota masing masing. suami dan istri harus datang. Ada surat yang harus di tanda tangani yang menyatakan bahwa tidak ada rencana bercerai.

Kisah selesai..

About these ads

About Hasan

manusia biasa yang punya cita-cita tak biasa... Meski telah nomaden dan merasakan hidup di Manado, Gorontalo, Yogya, Bandung dan Semarang, masih punya impian menikmati Karunia Ilahi berupa Alam Indonesia yang luas... Melalui blog ini, beberapa cuplikan pengalaman, pengtahuan, harapan hidup saya ingin ku bagi...Semoga bermanfaat!!

Posted on April 17, 2013, in diary, Heidelberg and tagged , , , . Bookmark the permalink. 1 Comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,146 other followers

%d bloggers like this: