Jangan Sholat di Sembarang Tempat

Semaraknya mesjid-mesjid saat ramadhan memang sulit ditemukan di bulan yang lain. Kadang kita melihat masjid penuh dengan jamaah yang sholat sunnah tersebar dimana-mana. Orang lalu lalang di depan orang sholat. Ada yang sholat di depan pintu. Milih tempat yang paling enak, praktis, dekat, itu semua tergantung-masing-masing. Tapi taukah anda tentang HUKUM SHALAT DI BELAKANG SUTRAH? Entah memang kita ga diajarin, atau kita yang ga mau tau tentangnya, yang jelas, kalo lihat fenomena tempat pilihan orang2 shalat tadi, saya yakin sebagian dari kita belum tau hukumnya. Sudah saatnya kita berpikir ilmiah!! Apa yang kit lakukan dalam agama ini berdasrkan dalil yang kuat dari Al-Qur’an dan Sunnah Rosululloh.

Berikut ini beberepa kutipan dari www.salafy.or.id dari artikel “Koreksi sholat kita : Menghadap sutrah/pembatas” Penulis: Syaikh Abu ‘Ubaidah Masyhur bin Hasan bin Salman

HUKUM SHOLAT MENGAHDAP SUTRAH (Pembatas)

Dari Ibnu ‘Umar -radhiyallahu ‘anhuma-, dia berkata: Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
“Janganlah kalian shalat, kecuali menghadap sutrah dan janganlah kalian membiarkan seorangpun lewat di hadapanmu, jika dia menolak hendaklah kamu bunuh dia, karena sesungguhnya ada syetan yang bersamanya.”

Dari Abu Sa’id al-Khudri -radhiyallahu ‘anhuma-, dia berkata: Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
“Jika salah seorang dari kalian shalat hendaklah menghadap kepada sutrah dan hendaklah dia mendekat ke sutrah. Janganlah engkau membiarkan seorangpun lewat di antara engkau dengan sutrah. Jika ada seseorang melewatinya, hendaklah engkau membunuhnya, karena sesungguhnya dia itu syetan.”

Asy-Syaukani berkata sebagai komentar atas hadits Abu Sa’id yang lalu: “Dalam hadits tersebut mengandung dalil, bahwa membuat sutrah dalam shalat adalah wajib.”

Penulis menyatakan:

1. Kesalahan orang yang shalat yang tidak meletakkan di hadapannya atau menghadap ke sutrah, walaupun dia aman dari lalu-lalangnya manusia, atau dia berada di tanah lapang. Tidak ada bedanya antara di kota Makkah ataupun di tempat lainnya dalam hukum tentang sutrah ini secara mutlak.

2. Sebagian ulama menyunnahkan orang yang shalat untuk meletakkan sutrah agak ke kanan atau ke kiri sedikit dan tidak menghadapkan dengan tepat ke arah kiblat. Yang demikian ini tidak ada dalilnya yang shahih, namun kesemuanya itu boleh.

3. Ukuran sutrah yang mencukupi bagi orang yang shalat, sehingga dia bisa menolak bahayanya orang yang lewat, adalah setinggi pelana. Sedangkan orang yang mencukupkan sutrah yang kurang dari ukuran itu dalam waktu yang longgar tidak diperbolehkan. Dan dalilnya dari Thalhah, dia berkata: Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
“Jika salah seorang dari kalian telah meletakkan tiang setinggi pelana di hadapannya, maka hendaklah ia shalat dan janganlah ia memperdulikan orang yang ada di belakangnya.”

Ukuran panjang pelana adalah sepanjang (satu) hasta. Sebagaimana yang dijelaskan oleh ‘Atha`, Qatadah, ats-Tsaury serta Nafi’. Sehasta adalah ukuran di antara ujung siku sampai ke ujung jari tengah. Dan ukurannya kurang lebih: 46,2 cm.

4. Dalam shalat berjama’ah, makmum itu tidak wajib membuat sutrah, sebab sutrah dalam shalat berjama’ah itu terletak pada sutrahnya imam.

5. Jika seorang Imam tidak membuat sutrah, maka sesungguhnya dia telah menjelekkan shalatnya dan sikap meremehkan itu hanya dari dia. Sedangkan bagi setiap makmum tidaklah wajib membuat sutrah untuk dirinya dan (tidak wajib) menahan orang yang melewatinya.

6. Apabila makmum masbuk berdiri untuk menyelesaikan raka’at yang tertinggal bersama Imam, sehingga dia keluar dari status sebagai makmum, maka apa yang dia lakukan?
Al-Imam Malik berkata: “Seseorang yang menyelesaikan shalatnya setelah imam salam tidak mengapa dia menuju ke salah satu tiang yang terdekat dengannya, baik yang ada di depan, sebelah kanan, sebelah kiri ataupun di belakangnya. Dengan mundur ke belakang sedikit, dia menjadikannya sebagai pembatas (sutrah), jika tiang itu dekat. Jika jauh, maka dia tetap berdiri di tempat semula, dan menolak orang yang lewat semampunya.”

Dikutip dari:

Koreksi sholat kita : Menghadap sutrah/pembatas” Rabu, 27 Juli 2005 – 03:07:41 :: kategori Fiqh

Penulis: Syaikh Abu ‘Ubaidah Masyhur bin Hasan bin Salman

Lihat Pula :

Sutrah dalam Shalat
Penulis: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari

About Hasan

manusia biasa yang punya cita-cita tak biasa... Meski telah nomaden dan merasakan hidup di Manado, Gorontalo, Yogya, Bandung dan Semarang, masih punya impian menikmati Karunia Ilahi berupa Alam Indonesia yang luas... Melalui blog ini, beberapa cuplikan pengalaman, pengtahuan, harapan hidup saya ingin ku bagi...Semoga bermanfaat!!

Posted on September 20, 2008, in Agama and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. Memang sering saya perhatikan orang sholat di sembarangan tempat, kadang mentang-mentang segan masuk ke dalam atau maju ke shof yang lebih depan (masih kosong), mereka asik aja sholat tahyatul masjid di samping pintu masuk, otomatis kita mau masuk harus lewatin depan sujud dia, bagaimana ini? siapa yang salah?

    http://www.miftahulkhoir.co.cc

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: