Zakat fitrah dengan Uang

Bentar lagi Romadhon akan berakhir. Saya yakin sudah banyak yang tau kewajiban zakat fitrah. Cuma tak ada salahnya kita kembali mengingat detailnya syariat zakat fitrah. Alangkah baiknya apa yang kita tau buakan dari cerita dongeng orang tua dulu. Waktu kuliah kita dididik berpikir ilmiah, setiap pernyataan harus ada landasan referensinya. Nah, kalo masalah dunia anda telah berpikir ilmiah, sudahkan anda menerapkan itu pada masalah Agama? Ya, minimal, setiap “ritual” ibadah yang kita lakukan, seharusnya kita tau dalilnya berdasarkan Al-qur’an dan Sunnah Rosul. Jangan sampai “capek” ataupun “materi” yang kita “buang” untuk agama ini benar-benar sia-sia karena bisa jadi ga ada tuntunan Rosulullaoh. Dewasa ini, kian semarak pemberian zakat fitrah dengan uang tunai. Bagaimana sebenarnya tuntunan rosul mengenai Zakat fitrah??


Dengan apa zakat fithri dibayarkan ?
Dari hadits di atas kita ketahui bahwa zakat fithri adalah dengan memberikan gandum dan tamr (kurma) seberat 1 sha’. Lalu apakah terbatas hanya pada dua jenis makanan ini? Maka pertanyaan ini akan terjawab dengan hadits marfu’ (sanadnya sampai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam) yang diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudry bahwasanya dia berkata: “Kami dahulu memberikan zakat fithri di masa Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam seukuran 1 sha’ makanan atau 1 sha’ kurma atau 1 sha’ gandum atau 1 sha’ aqith (susu kambing yang dipanaskan hingga berbusa lalu diambil saripatinya dan dibiarkan hingga mengeras) atau 1 sha’ anggur kering.”

Ternyata dalam dua hadits ini, tidak kita dapati penyebutan beras atau sagu sebagai bahan makanan pokok di negeri ini. Sehingga apakah kita harus mencari bahan-bahan yang tersebut dalam dua hadits di atas untuk membayar zakat fithri kita?

Kaum muslimin yang dimuliakan oleh Allah, pendapat yang paling masyhur di dalam madzhab Hanbali (madzhabnya pengikut Imam Ahmad ibnu Hanbal) adalah pendapat bahwa membayar zakat dengan bahan-bahan selain yang disebutkan dalam dua hadits di atas adalah tidak sah. Akan tetapi pendapat ini, wallahu a’lam, adalah pendapat yang marjuh/ lemah. Sebab dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudry mengatakan: “Kami (para sahabat Nabi) memberikan zakat fithri di masa Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam berupa 1 sha’ makanan.” Abu Sa’id Al-Khudry berkata: “Dan makanan kami pada saat itu adalah gandum, anggur kering, dan aqith.”

Riwayat ini menunjukkan bahwa makanan yang dibayarkan adalah makanan pokok yang paling banyak dibutuhkan oleh penduduk suatu negeri. Dan ini adalah pendapat ulama dari madzhab Malikiyyah dan Syafi’i dan diriwayatkan pula dari Imam Ahmad, serta dibenarkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Syaikh Muqbil ibnu Hadi Al-Wadi’iy rahimahullah ta’ala.

Syaikh Abdullah ibnu Abdirrahman ibnu Shalih Al-Bassam dalam Taisirul ‘Allam – keterangan beliau terhadap kitab Umdatul Ahkam – (I/404) mengatakan: “Bahan makanan yang paling utama untuk zakat fithri (dari bahan-bahan makanan yang ada) adalah bahan makanan pokok yang paling dibutuhkan oleh kaum muslimin (faqir dan miskin) setempat.” Sehingga di Indonesia, bahan makanan yang paling baik untuk zakat fithri adalah beras. Wallahu a’lam.

Berapa ukurannya ?
Dalam masalah ini, para ulama berbeda pendapat. Namun pendapat yang paling kuat adalah bahwa ukuran (takaran) 1 sha’ adalah sha’ nabawy (seukuran 4 mud yang ditakar dengan dua tangan Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam). Dan apabila dikonversikan ke satuan timbangan (berat) maka 1 sha’ nabawy setara dengan 2040 (dua ribu empat puluh) gram atau 2,04 kg. Wallahu a’lam.

Bolehkah menggantikan bahan pokok dengan uang yang senilai?
Al-Imam An-Nawawy menukilkan dalam Syarah Muslim (VII/53) bahwa seluruh ulama (kecuali Abu Hanifah) tidak membolehkan zakat fithri yang dibayarkan dengan uang. Dan inilah yang rajih/ kuat berdasarkan beberapa hal:
1. Hadits tentang zakat fithri menunjukkan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam mensyariatkan zakat ini untuk ditunaikan dalam bentuk makanan.
2. Amalan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dan sahabatnya menunjukkan bahwa mereka selalu menunaikan zakat ini berupa makanan, padahal kita mengetahui bahwa di masa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam pun telah beredar uang dinar dan dirham. Namun beliau dan para sahabatnya tetap menunaikan zakat dengan bahan makanan, tidak dengan dinar dan dirham.

Kapan zakat fithri ditunaikan?

Ia harus ditunaikan (disampaikan kepada yang berhak) sebelum kaum muslimin keluar menuju tanah lapang untuk melaksanakan shalat Ied. Dan para ulama sepakat bahwa ia tidak boleh ditunda sama sekali. Ini berdasarkan hadits Ibnu Umar ra: “Bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam memerintahkan kum muslimin untuk membayarkan zakatnya sebelum keluarnya mereka untuk menjalankan shalat Ied.”
Adapun memajukannya satu atau dua hari sebelum Iedul Fithri, maka hal ini diperbolehkan, sebagaimana yang telah dilakukan oleh para sahabat berdasarkan riwayat dari Al-Bukhari dari Ibnu Umar Radiyallahu ‘anhu. Dan Ibnu Abbas Radiyallahu ‘anhu meriwayatkan suatu hadits bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Barangsiapa menunaikan zakat fithri sebelum shalat ied maka ia adalah zakat yang diterima. Dan barangsiapa yang menunaikannya setelah dilakasanakan shalat iedul fithri maka ia dianggap sebagai salah satu jenis shodaqoh saja dan zakatnya tidak diterima.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan lainnya dengan sanad yang hasan).

Kepustakaan:

Dikutip dari tulisan Ustadz Abu Hamzah Yusuf, Bulletin al Wala wal Bara Edisi ke-2 Tahun ke-1 / 29 November 2002 M / 24 Ramadhan 1423 H

Penjelasannya saya kutip dari www.salafy.or.id, baca lengkapnya disini.

About Hasan

manusia biasa yang punya cita-cita tak biasa... Meski telah nomaden dan merasakan hidup di Manado, Gorontalo, Yogya, Bandung dan Semarang, masih punya impian menikmati Karunia Ilahi berupa Alam Indonesia yang luas... Melalui blog ini, beberapa cuplikan pengalaman, pengtahuan, harapan hidup saya ingin ku bagi...Semoga bermanfaat!!

Posted on September 24, 2008, in Agama and tagged , , , . Bookmark the permalink. 5 Comments.

  1. Hmmm..
    saya belum bayar zakat nih , tapi biasanya nggak lewat BAZIZ, kami lebih senang memberikan langsung kepada yang membutuhkan..
    anyway…Selamat Hari Raya, Pak… Mohon maap lair bathin…

  2. wah..makasih ..ya..bunda belum bayar nich, kata orang tua dulu, bayar nya pas takbiran gituhu…apa bener???

  3. berdasrkan Kutipan di atas, paling utama menyalurkannya sebelum shalat Ied. namun bila diberi 1-2 hari sebelum hari raya tidak mengapa. Yang penting bukan SETELAH sholat Ied.

    sy jd ingat, saat kecil, pas malam takbiran bapak selalu mengajak keliling kampung buat membagikan zakat fitrah langsung ke tetangga yang membutuhkan. … SERU!

  4. thanks udah mampir diblog saya!!!!

  5. Posting ini sangat bagus menyadarkan umat islam tentang fiqih zakat
    yang saya tahu zakat fitrah saat diserahkan ke amil itu boleh dengan uang asal saat diberikan kepada mustahik harus berupa makanan pokok (dalam hal ini beras di indonesia)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: