Kuli intelektual, Pekerjaan Mulia jadi Hina

Udah beberapa hari ga nulis.
Kali nih saya mau curhat dong, sekalian minta opini dari pihak yang ga tau dunia kedokteran.
Sebagai manusia biasa, masing-masing kita butuh materi. Ga usah muna’ deh, mo pengemis, dokter, karyawan, semua perlu duit. Masalahnya dengan cara apa ?
Taukah anda, banyak dokter-dokter berstatus KULI intelektual?

Sudah lumrah dikalangan dokter baru, ngamen sana sini, jd bajing loncat dr satu klinik ke klinik laen, demi makan. Sekolah 7th tetap tdk ada jaminan kemapanan. Kadang2 sy lirih melihat teman sejawat yg kerja mati-matian, 7x24jam kdng seminggu ada jg yg sebulan penuh, kerja di tempat orang. Hasilnya dpt dibilang banyak. Konon ada yg bisa sampe 11jt/bln. Jangan dulu liat jumlahnya! Lihat bagaimana caranya! Dia kerja sebulan tanpa henti. Tidur hanya saat ga ada pasien. Bekerja tanpa otonomi.
Konon juga, pemilik klinik lebih mantap! Seminggu ada yg bisa capai net 10jt. Wah, mending jd pemiliknya! Cuma Kongko-kongko di rumah, nuggu hasil. Sementara, dokternya dah ga punya arti hidup. Hidupnya sengsara.. Diperbudak pekerjaan yg senantiasa dihantui ancaman malpraktek ato minimal celaan dari keluarga yg esmosi.
Saya beri contoh real. Di sebuah klinik 24jam di jakarta, dokter jaga dibayar 100rb/24jam. Tiap periksa pasien dokter dpt 6rb (ditagih ke pasien 10rb). Jasa Tindakan 50% untuk dokter. Dlm sehari, pendapatan dokter disono totalnya 150-225rb. Percayakah anda, pemasukan kotor pemilik klinik itu 1,5jt/hari?
Idialisme Kedokteran jd hambar saat klinik dibangun untuk lahan bisnis.
Saya sempat nemu pasien ga mampu, dokternya ga bisa berbuat banyak! Dokter dalam dilema. Satu sisi ingin nolong, sisi lain dia bekerja dlm aturan orang lain. Mudah aja mo bilang, “Ga usah bayarlah!” tapi, kliniknya siapa yg bayar? Obat harganya kdang dilipat ganda..

Saya sekarang bertanya kepada anda!
Puaskah anda berobat ke dokter?
Puaskah anda dengan penjelasan dan keleluasaan konsultasi dengan dokter?
Berapa banyak dokter yg anda puas dengan pelayanannya?
Apa sebenarnya yg anda inginkan dari dokter?

Alasan yg dibuat para dokter akan sempitnya waktu bicara, pelitnya kata-kata bermacam2. Pengalaman itu pernah saya alami. kadang2 dokter merasa dibebani tanggung jawab yg berlebih. Saat harus visite pasien yg sangat banyak, jadilah pelit kata-katanya agar tdk pulang molor. Saat kita sedang punya urusan pribadi, itupun terjadi. Saat kita menemukan kasus baru&ragu, jd malaslah menjelaskan. Di lain pihak, pasien ga akan peduli. Pasien mana yg akan iba dgn dokter yg kecapean krn 2 hari belum pulang? Keluarga pasien mana yg peduli dengan stres yg dialami dokternya yg sebelumnya telah mengantar nyawa pasien diruangan lain?Pasein dan keluarganya hanya minta perhatian dan pelayanan yg kadang sebagai manusia ada batasnya. Lantas, Pengusaha klinik/RS mana yg akan peduli dgn kondisi fisik dan mental dokternya? Yg mereka risaukan hanyalah saat dokter2nya minta perbaikan kesejahteraan yg notabene mengurangi omset.
Sekali lg, anda jangan muna’, dgn mencela para dokter yg demikian. Kenapa anda tdk memberi solusi, cara menurunkan biaya berobat seiring dengan meningkatnya kesejahteraan dokter?
Terlalu banyak pihak yg punya kepentingan di sana.
Saya memang masih sekecil upil dlm msalah praktek kedokteran. Tapi yang pasti, saya yakin ada yg ga beres. Pekerjaan yg sangat mulia ini kini agak menjadi hina dengan orientasi bisnis di praktek kedokteran.
Mohon do’anya agar sistem ini berubah. Kalo bukan dari kita sendiri, mo siapa lagi..
Ya..iyalah, masa ya iya pret!

Taukah anda, saat ini saya menulis ini di kereta ArgoSindoro :Jakarta ke Semarang., br nyampe cirebon.
Saat ini pun saya berpikir, Mau jadi apa saya kelak? Kerja apa yg bisa buat keluarga saya hidup layak? Sayapun yakin, apapun profesi anda, pasti secara tdk sadar andapun memikirkan hal serupa.

About Hasan

manusia biasa yang punya cita-cita tak biasa... Meski telah nomaden dan merasakan hidup di Manado, Gorontalo, Yogya, Bandung dan Semarang, masih punya impian menikmati Karunia Ilahi berupa Alam Indonesia yang luas... Melalui blog ini, beberapa cuplikan pengalaman, pengtahuan, harapan hidup saya ingin ku bagi...Semoga bermanfaat!!

Posted on November 17, 2008, in Uncategorized and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 12 Comments.

  1. pengemis aja sekarang dikasih Rp.100 kadang ada yg ga terima. Jadi sekarang ini profesi mulia jadi “hina”, nah yang “hina” jadi tambah “hina”

  2. klo pengemis dikasih 100 nolak sih blm pernah ngalami. Dulu, Emil pernah salah ambil koin untuk ngasih ke pengamen. tanpa sadar dikasih 50 perak.eh yg ada malah dicaci maki. gw yg ga kasih aman2 aja. mending ga kasih ya!
    Btw, Alhamdulillah sy skrng dah sampai di semarang.

  3. Jadi dokter itu pilihan.
    Jadi pengemis itu pilihan.
    Ngasih duit ke pengemis itu pilihan.
    Ngga mau ngasih itu juga pilihan.
    Dan kerja 7×24 jam sampai sebulan dengan penghasilan 11 juta, lagi-lagi juga pilihan!
    Jadi, yang mana pilihan Anda?

    Selamat datang di Semarang ya.
    Titip bandeng presto..

  4. hmmm.. dari dokter2 yg ana temui, ada yg memuaskan dan ada yg g..(fifty2 lah)…yg paling sering tidak memuaskan adalah pelayanan rumah sakit si,palagi RS pemerintah…wuih…..

    Sbgai org awam, ana spt org kebanyakan yg berpikir bahwa ya Dokter tu berarti penghasilannya banyak, dari hasil praktek dll… (dibandinginlah ma kuli laennya,,..misal kuli pabrik yg kerjanya juga sama kerasnya ma seorang dokter)…

    menurut ana, semua pekerjaan punya beban dan tanggung jawab masing2, otomatis hak (finansial dsb) yg diperoleh juga berbeda2,..semua org pengen hidup dengan layak dan nyaman, kalo bisa ya keluar dikit nerimanya banyak ,(tapi bukankah hidup itu alangkah baiknya lebih dalam memberi dibandingkan menerima,..kata pak cik di Laskar Plangi..(HALAH…!!!)…

    Buat perbaikan sistem ana masih mikir harus ngasi saran apa..yg pasti kalian2 para dokterlah yg lebih tahu…ne skg cuma bisa nyaranin, bersabarlah, wong pekerjaan itu bukan hanya dinilai dari paramater materi yg diperoleh, tapi nilainya di sisi Allah…so keep trying ur best..Ganbatte Kudasai!!!!!

  5. Well……. MULIA atau HINA pekerjaan kita bukan dinilai dari banyaknya materi yang kita dapatkan tapi dari banyaknya manfaat dan kebajikan yang bisa kita berikan buat orang lain. Setiap profesi pada dasarnya mulia, asalkan bernilai ibadah disisi Allah. Mo dia seorang kuli, pengemis, de el el bukan berarti dia hina kan? Yang ada orang lain aja yang menganggapnya seperti itu tergantung kacamatanya (caranya memandang). Demikian juga seorang intelektual tidak lantas dia menjadi mulia karena kepandaiannya, but the action.

    Saya sih bertanya2 aja, dimana letak hinanya? Anda toh bukan seorang koruptor, bukan seorang yang mengambil hak orang lain. Justru menurut saya disitulah nilai kemuliaannya. Sekali lagi asalkan itu bernilai ibadah disisi Allah. Orang mungkin boleh menilai muna’. Siapa sih yang gak butuh duit, orang macam saya aja yang (maaf….) belum berkeluarga , sering ngerasa kekurangan, apalagi yang sudah berkeluarga. Itu manusiawilah. Tapi saya sangat percaya masalah rejeki itu sudah ada yang ngatur. Bukankah jodoh, rejeki, dan umur itu sudah ditetapkan ketika kita dalam kandungan sang bunda. Prinsip saya, yang penting udah berusaha, berdoa, setelah itu apapun hasilnya, saya akan senang dan rela menerimanya, karena itu adlh pemberian dari Allah. Rejeki dan nikmat itu kan tidak semata-mata dari materi saja, justru nikmat yang paling besar dan paling indah adalah kesabaran dan kemampuan kita untuk bersyukur…… (Uupps, afwan saya gak bermaksud menggurui cuma mengingatkan aja, secara saya juga yakin saudara hasan sudah tahu itu)

    Saya memang bukan orang yang berkecimpung langsung dalam praktek2 kedokteran. Tapi profesi saya dulunya memungkinkan saya untuk bergaul dengan tenaga-tenaga kesehatan yang lain shg sedikit banyak saya tahu praktek2 dalam RS. Yah saya sangat setuju dengan anda. Sebagai seorang perawat yang dulunya pernah bekerja di bidang pelayanan, meskipun pengalaman saya masih sangat minim tp itu sudah cukup untuk membuat saya berpikir, bahwa memang HARUS ada yang berubah dalam tatanan pelayanan di RS, Apa? Sistim Manajemennya… Terlalu banyak KETIDAKPUASAN yang ditimbulkan oleh system manajemen di RS yang terlalu memihak orang perorang ataupun kelompok/profesi tertentu. Padahal jasa pelayanan yang diberikan oleh RS tentunya melibatkan banyak profesi didalamnya, Terlalu banyak ketimpangan2 dan kesenjangan2 dalam hal beban kerja dan hak yang ”SEHARUSNYA” diterima.

    Idealnya pihak RS/klinik harus memperhatikan kesejahteraan semua karyawannya. Dalam hal ini bukan kesejahteraan dokter saja, atau perawat saja, tapi semua karyawannya. Karena hal ini tentunya akan berdampak langsung terhadap kinerja karyawan yang selanjutnya akan mempengaruhi citra sebuah rumah sakit/klinik. Sistem manajemen seyogyanya disesuaikan dengan tingkat ketergantungan pasien, ini berarti apa yang diterima (hak) memang sebanding dengan beban kerjanya. FAKTA di lapangan tidaklah demikian, ada kecenderungan dimana prosen komisi yang terlalu menguntungkan pihak dan profesi tertentu.
    (Ini adalah sebuah realita yang sangat penting untuk dicermati, jangan sampai kita mengambil hak orang lain loh……. Kalau begitu, masih layakkah profesi kita disebut mulia ????)

    Saya rasa apa yang menjadi beban pikiran anda saat ini juga sama seperti yang dipikirkan kebanyakan orang termasuk saya. Saya seorang dosen. Saya teringat sebuah petuah yang pernah diberikan oleh dosen saya kala itu, pada saya beliau berkata kalau kamu ingin menjadi orang kaya jangan menjadi dosen. Jadilah para anggota dewan yang terhormat. Mereka ketika belum menjabat, sangat hafal dengan “ayat kursi” tapi setelah menjabat lupa dengan “ayatnya” hanya ”kursinya” saja yang diingat. Layaknya sebuah lelucon namun sangat mendidik. Hal yang perlu kita ingat, bahwa kekayaan memang bisa menjamin sebuah keluarga bisa hidup layak secara fisik tapi tidak menjamin sebuah keluarga bisa hidup bahagia. Tiap-tiap orang pasti akan diuji sesuai dengan kemampuannya. Yang miskin akan diuji dengan kemiskinannya, demikian juga yang kaya akan diuji dengan kekayaannya…………. InsyaAllah, istri dan anak anda juga bisa memahami.

    Yup……….
    terlepas dari profesi yang anda geluti, apapun itu adalah amanah yang diberikan oleh Allah yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya.
    Wallahu a’lam bisshowwab

  6. Alhamdulillah, ada yg ngasih apresiasi yg mantap. Makasih karena telah banyak mengingatkan saya.
    Sebenarnya maksud sy mencontohkan soal materi, hanya untuk sbgai ilustrasi.
    knapa sy bilang jadi hina? krn dlm nolong orang, saya contohnya, kadang niatnya jd ga “murni”, “PASIEN = DUIT”. pada kondisi, kdng2 orang betul ga mampu..mending klo kita punya otoritas, nah, klo kita di-kuli-in ama pengusaha bisnis kedokteran, yg orientasinya cm keuntungan klinik/RS, Apa yg bgitu ga “hina”? anda sekalian yg punya pendapat..

  7. Menjawab pertanyaan anda
    Puaskah anda berobat ke dokter? Tahukah anda bahwa tempat yg palin saya takuti adalah rumah sakit bukan yang lain jadi….
    Puaskah anda dengan penjelasan dan keleluasaan konsultasi dengan dokter? Puas soalnya saya udah takut duluan
    Berapa banyak dokter yg anda puas dengan pelayanannya? semua
    Apa sebenarnya yg anda inginkan dari dokter? Simple aja, kita sama2 manusia

  8. slama ini image dokter bagi saya keren kok.. hehehehe

  9. wah pekerjaan yang mulia ya harus halal!!!

  10. sudah bukan jamannya mengandalkan hanya satu pekerjaan. mesti nyambi klo gak mau repot. bukan hanya dokter, apapun profesinya punya resiko yg sama. di daerah saya aja juga gitu. dokter buka praktik di rumah. klo gak ya mungkin kayak cerita di atas.

  11. Sy pcy tidak cm anda yg berpikiran spt itu, untuk cari pengalaman tak apalah beberapa bulan kita jadi orang gajian ma pemilik klinik itu,dari situ kita dpt pengalaman, dari hasil mengamati, apa kekurangan dan kelebihan klinik tsb, sambil ancang2 dan bertekad suatu saat aku pun bisa bikin klinik macam ini!!bahkan lebih baik dari ini!!dan itu yang aku lakuin sekarang, sumpah deh nggak enak lagi melulu jadi orang gajian.bukannya tidak bersyukur atas rezki yg dikasihNYA tp kita kan berusaha mencari yang terbaik bagi kita.ok deh met bjuang deh TS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: