Kompetensi Tenaga Kesehatan

Sore tadi saya ditugasi mewawancara seorang perawat yang ngelamar kerja di RS tempat saya bekerja. Penampilannya sih cukup ok. Tidak terlalu culun, dan masih punya wibawa. Jauh-jauh dia datang dari pulau seberang tuk mencari pekerjaan. Tampaknya ia bakal jadi tulang punggung keluarganya.

Wawancara kulakukan tuk melihat sekilas soal “kemampuan” medisnya sebagai perawat. Hasilnya saya benar-benar ga puas. Memang dulu saya dikenal teman-teman suka bertanya pertanyaan yang “membunuh” hihihi.., ga juga sebenarnya, meski saya ingat dulu waktu koass kelompok kami pernah memaksa kelompok lainnya menangis gara-gara “dibantai” pertanyaan.

Kali ini saya bertanya beberapa hal yang hasilnya:

– Dia tak tau soal ABC dalam kasus emergensi

– Dia berani mengutak-atik posisi kepala pasien meski berulang kali dah dikatakan adanya riwayat trauma kepala.

– test Tourniquet (RL) pada pasien DHF pun ia belum pernah dengar.

Bicara soal keterampilan tindakan keperawatan, nah lo.. Ia “berani” memberi nilai “5” dari maksimal “10” untuk keterampilannya memasang infus.

Kejadian tadi mengingatkan saya pada cerita serupa kurang lebih seminggu yang lalu. Saat itu, saya mewawancarai seorang bidan yang juga calon karyawan RS. Bidan ini telah setahun nganggur. Waktu yang cukup lama tuk melupakan segalanya… Sang bidan ini mengaku hanya sekali saja menolong persalilan sendiri. Belum pernah jahit Ms.V. Dia pun mengaku pelum pernah diajarkan soal Plasenta Previa dan solusio plasenta. Dan tak tau efek samping biasa penggunaan kontrasepsi hormonal.

Kedua kejadian ini menjadikanku penasaran. Apa sebenarnya yang dipelajari mereka selama 3 tahun? Seberapa jauh kompetensi minimal bidan maupun perawat? Bagaimana dengan pendidikan dokter di Universitas Swasta? wah.. saya saja merasa ilmu yang diperoleh dari pendidikan di Universitas Negeri saja masih terasa kurang, apalagi dengan sistem pendidikan di swasta.

Tampaknya kita harus membuka mata, bagaimana kualitas output sekolah tenaga kesehatan yang ada.

About Hasan

manusia biasa yang punya cita-cita tak biasa... Meski telah nomaden dan merasakan hidup di Manado, Gorontalo, Yogya, Bandung dan Semarang, masih punya impian menikmati Karunia Ilahi berupa Alam Indonesia yang luas... Melalui blog ini, beberapa cuplikan pengalaman, pengtahuan, harapan hidup saya ingin ku bagi...Semoga bermanfaat!!

Posted on August 4, 2009, in bidan, Dokter, Rumah Sakit and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 6 Comments.

  1. Blog anda OK Banget!. Submit tulisan anda di Kombes.Com Bookmarking, Agar member kami vote tulisan anda. Silakan submit/publish disini : http://bookmarking.kombes.com Semoga bisa lebih mempopulerkan blog/tulisan anda!

    Kami akan sangat berterima kasih jika teman blogger memberikan sedikit review/tulisan tentang Kombes.Com Bookmarking pada blog ini.

    Salam hormat
    http://kombes.Com

  2. Tulisan anda ini sangat bagus, saya tertarik untuk mengomentari,.. Maaf, diakui atau tidak dokter pun juga banyak yang memiliki kompetensi dan kemampuan jauh dibawah standar, ditambah dengan sikap yang kurang professional. Anda tahu pasti dengan maraknya kejadian malpraktek. Apalagi yang fresh graduate dokter umum, anda pasti pernah merasakannya. Jadi wajarlah kalau perawat atau bidan yang baru lulus juga kagok dengan kondisi seperti itu, apalagi kalau pewawancaranya langsung menunjukkan sikap antipati dan arogansi yang mungkin anda tunjukkan. Maksud saya rasa panik dan gugup bisa membuat kita tidak mampu berbuat atau berkata apapun. Saya rasa kalau perawat (lulusan D3) itu mau melanjutkan jenjang pendidikannya ke S1 ditambah profesi ners selama 1 tahun, saya kira anda bukan hanya puas tp juga anda harus belajar lagi sebagai dokter umum……. Sebagai praktisi pendidikan saya mengakui bahwa kompetensi lulusan dari tenaga kesehatan khususnya perawat memang belum maksimal. Pendidikan itu sendiri merupakan suatu system. jadi berbicara mengenai efektifitas dan efisiensi pendidikan bukan hanya berbicara tentang siswa/mhasiswa, guru/dosen, fasilitas, kurikulum, manajemen, kendali mutu, teknologi, dsb melainkan interaksi fungsional dan sinergi antara sub-sub system tsb. Negeri or swasta itu relatif, balik lagi ke orang ybs, banyak banget orang yang sukses lahir dalam keterbatasan. Anyway, terima kasih buat masukannya kepada kami, dalam hal ini saya rasa anda juga setuju agar RUU keperawatan cepat di golkan di DPR. Semoga… Amiien…

    • Terima kasih atas Tanggapannya..
      Bila contoh kasus di atas dianggap “wajar”, bagi saya itu dah kelewatan. Saya sangat tak memungkiri banyaknya dokter yang belum kompeten dalam sebagian hal, bahkan termasuk saya. Intinya bahwa masing-masing pemerhati pendidikan terutama tuk tenaga kesehatan harus membuka mata lebar-lebar soal output yang mereka hasilkan. Paling tidak, masing-masing lulusan memiliki kompetensi minimal sesuai pendidikannya.
      Saya yakin, zaman sekarang, para rekan perawat terutama yang “bergelar” Ners, tidak mau didudukkan lebih rendah dari dokter, namun kalau kualitas yang ada tidak kompeten bagaimana lagi? tentu para rekan perawat tidak mau hanya diperlalukan sebagai pekerja yang tugasnya terbatas pada tukang suntik, ganti infus, tukang tensi kan?
      Saya pun tak memungkiri, banyak rekan perawat senior yang jauh lebih terampil dalam tindakan tertentu daripada dokter freshgraduate. Tapi yang kita semua harapkan adalah tiap lulusan menguasai kompetensi minimal pendidikan mereka. Jelas profesi dokter, perawat, bidan punya tugas dan tanggungjawab masing masing. kalo tanggungjawabnya sama, ngapain sekolahnya dibedakan?

      Apa mungkin ABC dalam kasus emergensi tak diajarkan di sekolah perawat? atau ybs kebetulan absen saat kuliah? Apa mungkin teori plasenta previa tak diajarkan di pendidikan bidan? Apa mereka dilarang menjahit saat pendidikan? Anggap saja itu cuma kasus nyeleneh.. Yang jelas siapapun berharap, pendidikan jangan hanya dijadikan komoditi, jadi lahan mencari nafkan bagi dosen.

  3. Untuk beberapa hal pada dasarnya saya sangat setuju dengan anda, dalam hal ini saya menganggap wajar jika yang dimaksud adalah calon karyawan yang fresh graduate and have no experiences. Sebagai orang yang dipercayakan, ada baiknya kita memperhatikan aspek psikologis sang calon. Merujuk pada cerita teman saya yang merasa dipojokkan pada saat interview, mungkin sedikit koreksi dalam hal sikap pd saat berhadapan, pasang wibawa (mungkin perlu) tapi tidak menunjukkan sikap arogan, antipati, memojokkan, dan sejenisnya. Pengalaman saya pernah memberi ujian mhsw semester awal secara perorangan dengan lisan, walhasil saya hanya mendapatkan senyuman malu-malu, tp ada juga yang gemetaran, keringat dingin, pucat, bahkan menangis (kemungkinan besar ketakutan karena melihat wajah sy yang sangar), tapi kemudian saya memberi kesempatan untuk menulis jawaban dari 3 pertanyaan tsb, dan surprise semua jawabannya benar. Hal ini yang kadang kita lupakan dan tidak mau kita mengerti, tp sebagai orang bijak tentunya kita dapat mempertimbangkan hal tsb.

    Standar minimal buat saya sangat perlu…. Sebagai dosen keperawatan secara pribadi tentunya saya merasa sgt berdosa dan sia-sia, buat apa capek-capek kuliah sampai 5 tahun lebih jika nantinya anak didik kami hanya menjadi tukang suntik, tukang ganti infuse, tukang tensi di RS, sama seperti halnya jika anda hanya menjadi tukang jual obat. Itu semua hanya kompetensi minimal SPK sederajat SMA. Bukan AKPER apalagi NERS dan dalam RUU keperawatan semua batasannya sdh jelas, itu semua bertujuan untuk melindungi hak-hak pasien, standar mutu pelayanan, dan kode etik profesi keperawatan…. Iya kami menyadari betul bahwa fakta dilapangan masih jauh dari apa yang diharapkan, lantas pertanyaannya ini semua menjadi tanggung jawab siapa? Tidak benar, kalau semuanya diserahkan kepada dosen. Dosen berbeda dengan guru dalam hal system pembelajarannya yang bersifat andragogik dibandingkan guru yang cenderung pedagogik, dosen berfungsi sebagai fasilitator untuk mahasiswanya. Ada pemikiran orang ataupun mahasiswa yang keliru menilai dosen adalah dewa ilmu pengetahuan, dan satu-satunya sumber informasi bagi mahasiswa. Sehingga jika mahasiswa kualitasnya jelek, bukan mahasiswanya yang salah, tapi semua kesalahan ada di pihak dosen. Ini yang perlu diluruskan, sehingga yang berkembang sekarang di PT adalah SCL bukan TCL. Mahasiswa haruslah menyadari bahwa belajar bukan menjadi kewajiban melainkan kebutuhan mereka. Yang paling dibutuhkan sekarang ini sebenarnya adalah kualitas intrapersonal & kemampuan interpersonal mahasiswa sendiri, factor eksternal lainnya hanya memfasilitasi dan mendukung jalannya proses pembelajaran.

    Saya tidak mengingkari, Memang… umumnya pendidikan zaman sekarang “dikomersilkan” apalagi berlabel “swasta” dimana sekolah kesehatan yang selalu menjadi primadona menjadi tambang uang buat sebagian pihak ataupun yayasan yang menaungi. Seperti yang saya rasakan sbg dosen PT swasta, ini sama halnya seperti pisau bermata dua… akankah Idialisme runtuh karena silaunya materi??? Intinya harapan sy sama saja dengan harapan anda dan orang kebanyakan, dalam hati masih terus menimbang-nimbang apakah karir dan pekerjaan ini masih bisa dilanjutkan karena apa yang tampak didepan mata sudah tidak sesuai dengan hati nurani sendiri, dari hari ke hari semakin berat buat saya, ini lebih kepada tanggung jawab profesi dan tanggung jawab dihadapan Allah.. Yah semoga mereka cepat insyaf…
    a pleasure to share with and thanks ur feedback……. we need it……..

  4. Ck..CK..CK…Mengomentari tulisan anda, rasa-rasanya kok ya ada”kebanggaan baik yang tersirat dan tersurat dari kata-kata yang anda rangkai sebagai dokter”. Well saya bukan seorang dokter atau perawat tapi saya cukup mengikuti perkembangan pendidikan perawat di Indonesia. baiknya siy anda mengetes dokter umum baru yang akan masuk ditempat anda bekerja. dan biarkan perawat ditempat anda bekerja yng mengetes kemampuan perawat baru tersebut. Bagaimanapun anda dan dia profesi yang berbeda seperti yang anda tulis( sekolah yang berbeda). Karena lagi-lagi saya berdecak..tahukah anda menginfus/ tindakan-tindakan invasif seperti meamsang infus, cateter, dll bukanlah tugas perawat, hanya saja pekerjaan itu dilimpahkan kepada perawat. banyak saya temui dokter-dokter UMUM (sebagian) yang kepala besar merasa diri setengah dewa sehingga memandang kecil orang lain apalagi perawat yang jaman baheula seperti suruhannya dokter. wake up itu dulu !!! jadi tULISLAH SESUATU YANG BENAR_BENAR ANDA PAHAMI bukan YANG ANDA KIRA PAHAM, apalagi curahan hati yang JAUUUUUUH dari sikaf intelektual anda yang katanya seorang DOKTER !!!. saya sangat menyayangkan,

  5. Setuju kaka hasan:) tapi bidannya nasibnya gimana tu kedepannya? Apa malah dijadikan istri😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: