Rumah berlantai Tanah di tahun 2009?

Kurang lebih 4 hari ini saya tinggal di kampung istri di Karang Anyar-Solo. Sampai saat ini hujan baru sekali, padahal di Bandung, tiap hari sudah hujan. Alhasil, kering kerontang, tanah pecah-pecah, banyak lahan yg dianggurin. Disini sekarang sedang musim mangga.
Alhamdulillah, itu yang harusnya banyak-banyak kuucap. Betapa tidak, selama ini, saya tinggal, hidup di lingkungan yg ‘cukup’ normal. Sebagai manusia biasa, kadang malah merasa kurang atas apa yg tlah dimiliki. Mataku terbuka di sini.
Kalau diingat-ingat, daerah ini layaknya rumah2 zaman mojopahit. Atau rumah2 di film ‘saur sepuh’. Bentuk rumah, mayoritas rumah jawa. Terbuat dari kayu, tanpa plafon, berlantai tanah, masak menggunakan kayu bakar. Hanya beberapa rumah saja yg berbahan beton, dan berlantai keramik.
Masuk kriteria Gakin? layik dapat BLT? Kenyataannya, banyak yg tak memiliki Jamkesmas. Padahal di rumahnya jg hidup kambing dan ayam. Menyoal masalah berlantai tanah, saya antara menganggap mereka miskin atau bisa jadi gaya hidup terlalu sederhana.
Sempat saya bertanya, ini Jawa? tahun berapa ini? Kebanyakan warga desa ini beraktifitas sebagai petani. Mereka jarang beralas kaki. Hampir tiap KK memiliki lahan pertanian yg dikelola sendiri. Satu hal yg saya anggap ganjil adalah, pola bertani yg tradisional. Sangat mengandalkan alam. Saat musim kemarau berkepanjangan seperti sekarang, lahan dianggurin. Apa tenaga penyuluh pertanian mengabaikan desa ini? Di Hutan ITCI aja para petani mulai memanfaatkan internet tuk meningkatkan produktifitas, ini di jawa lho! Mungkin itu salah satu sebab rendahya status ekonomi desa ini.
Saat ini, diperkirakan hanya kurang dari 5 orang warga desa ini mengenyam pendidikan kuliah. Anak2 muda memilih langsung bekarja daripada sekolah. Kaum laki muda banyak yg bekerja sebagai buruh kasar di Solo.
Ada hal yg menarik bagi saya. Soal kesehatan. Masyarakat sini makannya ga neko-neko. Pengolahan makanan sangat sederhana. Sayur bening, gudangan adalah menu sehari-hari. lauknya tempe tahu. Ayam merupakan menu spesial. Ikan tidak dikenal di sini. Namun, ternyata, kebanyakan penyebab kematian disini adalah usia renta dan kecelakaan. Jarang terdengar kabar sakit yg aneh2. Menarik bukan? Apa yg menurut anda patut diubah di desa ini?

About Hasan

manusia biasa yang punya cita-cita tak biasa... Meski telah nomaden dan merasakan hidup di Manado, Gorontalo, Yogya, Bandung dan Semarang, masih punya impian menikmati Karunia Ilahi berupa Alam Indonesia yang luas... Melalui blog ini, beberapa cuplikan pengalaman, pengtahuan, harapan hidup saya ingin ku bagi...Semoga bermanfaat!!

Posted on October 9, 2009, in desa tertinggal and tagged , , , . Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. mulai dari bertani dulu kali ya ?! karena kalau sekolah dulu, pasti biaya menjadi alasan ..
    harusnya diperkenalkan sistem bertani yang tidak perlu harus menunggu musim hujan dulu. Saat ini – setahu saya- memanen padi bisa hingga 3x dalam setahun. kan jd lebih untung, dapat lebih dari sebelumnya, sehingga ada biaya untuk sekolah ..
    tapi itu pemikiran dan pendapat saya yang masih bodoh ..

    Iklan Gratis

  2. wah..
    memang menarik kalo kita liat dari segi kesehatannya,,
    rata-rata tidak ada yang terkena penyakit kelas berat macam stroke atau kanker,,
    beda banget dengan di kota yang padahal kebutuhan hidup dan lain sebagainya terpenuhi,,
    atau mungkin karna gaya hidup ya,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: