Potret Gelap duniaku..

Saya termasuk orang yang malas ke dokter. Alasannya males aja. Serta termasuk males minum obat klo ga mendesak. Dapat dibayangkan betapa malasnya saya kalo disuruh kontrol ke dokter 4x sebulan dan harus minum obat tiap hari. Bagaimana dengan anda? saya yakin tidak sedikit orang yang mirip dengan saya. Semoga Allah menjaga kesehatan kita semua dan memberi kita kekuatan tuk bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Allah.

Memang sulit jadi orang sakit. Harus berobat teratur. Biaya besar mulai dari ongkos transport, biaya konsultasi,  biaya obat yang mahal, belum lagi peleriksaan penunjang dan tindakan medis yang lain. Belum cukup sampai di situ, karena tidak setiap kita pun tau betapa menderitanya mereka. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita dan mereka.

Taukah anda beberapa penyakit kronis seperti tekanan darah tinggi dan kencing manis? Itu merupakan contoh penyakit kronis yang sering idap masyarakat kita. Selain komplikasinya bermacam-macam, pengobatan yg dijalani harus rutin, minum obat teratur, dengan pengaturan pola hidup yang harus dijalani.

Sejawat saya pernah bertanya, “Apa manfaatnya kita belajar pengobatan Hipertensi dan kencing manis?”. “Saya selama ini jarang sekali memakai obat itu” lanjutnya. Tentu ini sangat mengherankan!! Di saat dunia kedokteran Indonesia melihat kencing manis mulai melanjak dan Tekanan darah tinggi tetap menjadi penyakit non infeksi no satu di puskesmas, kok ada dokter yang bertanya seperti itu!

Pertanyaan itu muncul bukan tanpa alasan. Kenyataannya, dari sekian banyak klinik umum di kota ini, sayapun hampir yakin, pengobatan kedua penyakit tersebut memang tidak tepat. “Ada yang salah dengan semua ini!!” kalimat itu yang sering berputar-putar benakku. Sistem kesehatan kita harus diubah! Bicara soal sistem memang saya tak tau banyak, paling tidak saya melihat ada yang tidak tepat pada upaya kuratif sebagian besar klinik di kota ini.

Betapa tidak, penyakit yang kronis kok sebagian besar klinik hanya membekali pasien dengan obat yg hanya cukup untuk maksimal 6 dari. Tampaknya itu dilakukan agar menekan pengeluaran klinik. Sebagian besar memang klinik umum di kota ini sistemnya flat. Apapun penyakitnya biaya pengobatannya segitu. Alhasil, idealnya pasien harus minimal 4x kontrol, 4x ongkos transport, 4x berjuang dengan malesnya ngantri di klinik. Lengkap sudah!! dan sangatlah terbayang bagaimana nasib pasien-pasien tadi.

Pernah saya di”tegur” untuk Saya ga boleh yang aneh-aneh. Alasannya Saya memberi resep luar selama 30 hari untuk ditebus di RS yang bekerjasama dengan provider asuransi karyawan yang dimilikinya. Klinik ini bekerjasama dengan penyedia asuransi karyawan. Padahal sebelumnya nyata saya pernah bertanya ke pihak provider tsb, bahwa, penyakit kronis dapat diresepkan luar untuk 1 bulan. Pihak klinik beralasan, dengan begitu, kunjungan akan menurun. Yang harusnya bisa 4x sebulan, pasien ini hanya akan datang 1x sebulan. Gila!! Namanya juga saya cuma numpang praktek di sono.. yah.. “yes sir” aja dah. Diam-diam sayapun memotifasi senagian pasien untuk berobat aja di Puskesmas, biar cuma sebulan sekali. hihihihi…

Lain lagi kisah kali ini, Saya didaulat untuk menggunakan hanya obat apa adanya yang tersedia di klinik itu. Yah.. kalo obatnya standar sih boleh-boleh aja. Apa iya kalo saya tahu obat tertentu jelas memiliki efek samping yang merugikan pasien tertentu, tetap dipaksakan penggunaannya? Kalo demikian untuk apa sekolah kedokteran bertahun-tahun. Tapi giliran memberi resep luar, dikatakan tidak ditanggung asuransi. Pasien suka komplen mereka harus bayar lagi.
Memang sebagai manusia, kita dianugrahi otak yang bisa berpikir, maka sepantasnya untuk bertindak bijaksana, tidak gegabah, tidak terlalu kaku, tidak pula terlalu menerima pada kekurangan.
Saya yakin, di luar sana banyak dokter yang masih memiliki nurani. Hanya saja seringkali kami terpenjara oleh keadaan, dan ketidakberdayaan mengubah kondisi lingkungan tempat mencari nafkah. Semoga Allah membalas kebaikan setiap umatnya yang ikhlas membantu sesama dengan balasan yang belipat ganda.
Impianku pun kini makin bulat. Berharap membuat fasilitas kesehatan yang profesional, non-profit oriented, bermanfaat bagi banyak orang.
Semoga Allah memudahkan cita-citaku, dan memberi keberkahan pada setiap aktifitasku.

About Hasan

manusia biasa yang punya cita-cita tak biasa... Meski telah nomaden dan merasakan hidup di Manado, Gorontalo, Yogya, Bandung dan Semarang, masih punya impian menikmati Karunia Ilahi berupa Alam Indonesia yang luas... Melalui blog ini, beberapa cuplikan pengalaman, pengtahuan, harapan hidup saya ingin ku bagi...Semoga bermanfaat!!

Posted on March 22, 2010, in Dokter, MY DIARY, pasien. Bookmark the permalink. 10 Comments.

  1. Gw juga sama menderitanya dengan lu, San.🙂

    Dulu gw kerja di klinik di mana setiap resep disetel cuman boleh dikasih tiga hari. Akibatnya pasien hipertensi dikasih obat cuman untuk tiga hari, padahal dia kan harus minum obat seumur hidup. Terus pasien varicela cuman dikasih obat tiga hari. Padahal dia kan harus minum obat itu selama lima hari dan nggak boleh keluar-keluar rumah.

    Kalau kita bikin kebijakan sendiri, nanti kita nggak boleh praktek di klinik/rumah sakit itu.

    Kita berusaha menghadap ke pemilik tempat layanan kesehatan, tapi si boss sering (pura-pura) susah ditemui.

    Sering disangka pasien bahwa dokternya jahat dan matre. Padahal sebenarnya tempat layanan itulah yang matre.

  2. Uh,.. gw pikir gw doang yang menderita batin. Alhamdulillah gw punya konco. Jadi ingat artikel ku soal buruh intelektual dulu.

    Yah.. gimana lagi, jadinya sekarang main licik, ga peduliin klinik itu. Toh semuanya demi Pasiennya. Kedepannya saya berharap bisa membuat yang sesuai keinginan saya. Meski saya percaya ada sebagian pembaca kan berpikir penulis sok suci, terlalu idealis, dan kaku. biarlah..

    Semoga setiap aktifitas kita dinilai ibadah oleh Allah.

    Btw, Vicky kerja dimana sekarang?

  3. hmmmm… ternyata rumah sakit berbisnis juga ya.
    Amin ka, semoga bisa bangun rumah sakit sendiri, yang idealis

  4. Ray | gw ykin di luar sana masih banyak kok sarana kesehatan yang tak mengambil untung semata. Tapi sayangnya gw belm pernah nemu tuh… hihihi

  5. kalo fasilitas kesehatan tempatku kerja (puskesmas; red) memang sudah gratis untuk rawat jalan tapi karena ketersediaan obat yang terbatas maka obat untuk px pun dibatasi 2 hari untuk simptomatis dan 3 hari untuk antibiotik, menyiasatinya memang kita beri penjelasan soal penyakit n terapinya, kalo perlu ya kita beri resep luar biasanya yg generik, masalahnya px seringkali tidak membeli resep tsb dg berbagai alasan (ga ada biaya, males, suggesti sdh merasa sehat, atau mungkin blm jelas mengenai penyakitnya).

    • Diah | Alhamdulillah kalo dah gratis, cuma bagaimana pengobatan penyakit kronis di PKM? bisa diberikan untuk sebulan? yang repot kan kalo mereka harus kontol sampe minimal 4x/bulan karena dibatasi obatnya.

  6. itulah sistem kesehatan dan sistem kita, komersil.karena telah terkontaminasi dengan sistem barat.

  7. semoga allah segera memberi jalan untuk mewujudkan cita2 anda. dan semoga anda tetap amanah dengan cita2 anda.

  8. ga cuman di dunia kesehatan doang, di zaman kapitalis ni… semuanya profit oriented! serba susah memang…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: